Rabu, 28 September 2011

Pantai Karang Paranje










Jalan-jalan ka Cilacap










jarambah ka Gunung Masigit, Sabtu, 25 Desember 2010


Sebelum memulai ngaprak

Bismillah, perjalanan ke Kareumbi dimulai



jalan becek yang dilalui karena turun hujan

berpose dulu di depan papan informasi

suasana yang sejuk, alhamdulillah

Nyaneut heula di Capenya Kareumbi


jalan becek menuju kampung Cigumentong

bangunan tempat berkumpul warga kampung Cigumentong

reureuh heula

masjid Cigumentong

murak timbel, nyam-nyam-nyam

akhir perjalanan, Curug Cindulang.

Minggu, 18 September 2011

Malibir Gunung Satria





   Waktu menunjukkan pukul 07.15 saat kami berangkat dari basecamp. Tujuan kami kali ini adalah Gunung Satria, yaitu sebuah perkebunan teh yang berada di perbatasan Garut - Tasikmalaya. Angkot Bojongloa pun kami stop. Tawar menawar pun terjadi. Rp. 2000,- mengantarkan kami ke tempat awal aprak-aprakan.   Kampung Cirorek menjadi start perjalanan. Jalan rondaan yang ditembok kami lalui. Tidak berapa lama kemudian hamparan sawah dengan jalan setapak kami lewati.
Perjalanan terus dilanjutkan, gonggongan anjing menyambut kami ketika tiba di kp. Cikupa. Cuaca yang mendung mengiringi langkah-langkah kaki kami. Sayup-sayup seorang ibu melantunkan Solawat Nabi di sebuah mesjid sebagai tanda bahwa saat itu ada pengajian.
Aprak-aprakan dilanjutkan, jalan setapak dan jalan rondaan yang naik turun tak terlewatkan. Kp. Cikawung, Kp. Haur Seah kami lalui. Suasana sejuk karena kebetulan cuaca agak mendung menyapa kami saat mulai berjalan di perkebunan Gunung Satria. Angin sepoy-sepoy menambah asyiknya perjalanan.
Dengan pertimbangan waktu kami tidak naik ke puncak Gunung Satria tapi rute diarahkan ke Kp. Nagrak dengan maksud agar tidak terlalu jauh. Akhirnya aprak-aprakan malibir Gunung Santria tiba di finis Kp. Bojong Loa Negla pukul 10.45.
Perjalanan di hari Minggu ini (18 September 2011) tidak terlalu jauh tapi lumayan lah ngajagjageun tuur mah paten. 




Awal malibir Gunung Satria (Cirorek)


hamparan sawah walaupun musim kemarau air tetap mengalir

                                                                               gapura
                                                  Pak Herman mengeluarkan perbekalannya

                                             awal kebun teh                                    "rincug"
                                                  suasana perjalanan kebun teh Gunung Satria
                                           Yang tidak boleh ditahan-tahan karena bisa jadi penyakit
                                                            Murak bekel Pak Kundang.
                                                                Bendungan Leuwigobang




Rabu, 07 September 2011

Aprak-aprakan ka Lingga Ratu

Hari Ahad, 4 September 2011, pukul 07.00 kami berkumpul di base camp untuk persiapan lintas alam. Kali ini kami bermaksud menjelajahi wilayah Lingga Ratu yang berada di Karangpawitan Garut. Anggota yang mengikuti “aprak-aprakan” kali ini berjumlah 11 orang.
            Dengan menumpang angkot no 12 kami berangkat menuju start perjalanan ke Lingga Ratu. Kami memilih awal perjalanan dari kampung Bongkor bukan dari jalan yang ada plang tempat wisata Lingga Ratu.

            Pukul 07.30 wib kami memulai “aprak-aprakan”. Jalan pertama yang kami lalui berupa jalan rondaan yang belum diaspal. Di kanan kiri jalan terdapat saung-saung pengrajin bata merah. Kemarau yang panjang membuat jalan yang kami lalui berdebu.

            Tiga kampung telah kami lewati yaitu kampung Bongkor, Timbangayu, dan Kalapa Dua. Jalan yang kami lalui hanya tanjakan biasa yang dipinggirnya berdiri rumah-rumah penduduk yang diselingi kebun-kebun dan tempat pembuatan bata merah.  Menjelang kampung Babakan Sukasirna jalan yang kami lalui berupa jalan setapak yang mulai menanjak yang sebagiannya sudah ditembok. Ketika kami sampai diujung tanjakan menuju kampung Babakan Sukasirna pemandangan indah mulai kami nikmati. Hamparan wilayah kota Garut dan sekitarnya terlihat enak dipandang.

            Setelah beristirahat sejenak di kampung Babakan Sukasirna, kami pun melanjutkan perjalanan. Jalan setapak yang menanjak kami lalui kembali. Sebuah kolam pemancingan di atas bukit kami singgahi untuk beristirahat sejenak.


            Tidak jauh dari tempat itu ada dua jalan, yang satu berupa jalan rondaan dan  satu lagi , yang ditunjuk plang, berupa jalan setapak yang menanjak.

Awal jalan setapak yang kami lalui masih indah karena di kanan kiri masih terdapat pohon-pohon, namun semakin ke atas jalan yang ditempuh semakin menanjak. Kondisi jalan yang berupa tanah kering yang dipinggirnya alang-alang yang sudah dibakar ditambah panas matahari yang menyengat membuat kami berjalan lambat. Rasa letih yang mulai menyerang membuat beberapa kali di antara teman kami harus berhenti sejenak mengumpulkan tenaga untuk berjalan kembali.


Alhamdulillah kami ucapkan setelah kami melewati jalan setapak yang menanjak tanpa ada peneduh. Rindangnya pohon pinus diterpa angin sepoi-sepoi sejenak bisa melepas letih yang mendera kami. Dari bawah teduhnya pohon pinus kami melihat luasnya situ Bagendit beserta wilayah sekitarnya.  

Perjalanan belum berakhir, jalan setapak yang menanjak dan berdebu harus kami lalui. Tekad “hayang apal” membuat kami terus berjalan walau terengah-engah.

Saatnya buka perbekalan demikian saat kami tiba di atas gunung. Walau perbekalan yang dibawa alakadarnya tapi “Nikmat tenaaan”. Indahnya sebuah kebersamaan.

Saat beristirahat kami berpapasan dengan beberapa orang remaja yang berasal dari Nangorak Karangpawitan, salah seorang diantaranya memberitahu bahwa dibelakang pagar bambu tersebut ada sebuah kuburan, mereka menyebutkan bahwa yang dikubur tersebut adalah Prabu Kingking, dan kuburan tersebut disebut paesan panjang. Mang Yaya pun tertarik untuk mengukur berapa meter panjang kuburan paesan panjang itu. 
Perjalanan kami lanjutkan, rindangnya pepohonan membuat kami terus bersemangat mencapai “Lingga Ratu”.
Subhanallah, Allahu Akbar demikian ketika kami pertama kali melihat batu-batu besar yang berdiri kokoh di depan kami.    



Setelah menikmati indahnya pemandangan, kami pun melangkah pulang. Perjalanan pulang ternyata tak kalah seru dibanding saat berangkat. Jalan setapak  menuruni jurang namun teduh membuat kaki kami “ngaroroncod” sehingga kami seringkali mengambil cara “sosorosodan” daripada berjalan berdiri karena takut jatuh.
Selepas melewati jalan di hutan, jalan rondaan yang kering dan berdebu menyapa kami ditambah dengan jalan tanpa ada pohon peneduh dan jauh lagi membuat lengkaplah episode aprak-aprakan kali ini. He...he..............

Plang ini menjadi tanda akhir aprak-aprakan kami kali ini. Selamat berjumpa di episode aprak-aprakan yang lain.  
Bagi kawan-kawan yang suka bertualang, kawasan Lingga Ratu bisa dijadikan salah satu tujuan lintas alam. Tapi yang harus diingat ke Lingga Ratu harus rame-rame karena tempatnya lumayan "sereeeem".