Rabu, 07 September 2011

Aprak-aprakan ka Lingga Ratu

Hari Ahad, 4 September 2011, pukul 07.00 kami berkumpul di base camp untuk persiapan lintas alam. Kali ini kami bermaksud menjelajahi wilayah Lingga Ratu yang berada di Karangpawitan Garut. Anggota yang mengikuti “aprak-aprakan” kali ini berjumlah 11 orang.
            Dengan menumpang angkot no 12 kami berangkat menuju start perjalanan ke Lingga Ratu. Kami memilih awal perjalanan dari kampung Bongkor bukan dari jalan yang ada plang tempat wisata Lingga Ratu.

            Pukul 07.30 wib kami memulai “aprak-aprakan”. Jalan pertama yang kami lalui berupa jalan rondaan yang belum diaspal. Di kanan kiri jalan terdapat saung-saung pengrajin bata merah. Kemarau yang panjang membuat jalan yang kami lalui berdebu.

            Tiga kampung telah kami lewati yaitu kampung Bongkor, Timbangayu, dan Kalapa Dua. Jalan yang kami lalui hanya tanjakan biasa yang dipinggirnya berdiri rumah-rumah penduduk yang diselingi kebun-kebun dan tempat pembuatan bata merah.  Menjelang kampung Babakan Sukasirna jalan yang kami lalui berupa jalan setapak yang mulai menanjak yang sebagiannya sudah ditembok. Ketika kami sampai diujung tanjakan menuju kampung Babakan Sukasirna pemandangan indah mulai kami nikmati. Hamparan wilayah kota Garut dan sekitarnya terlihat enak dipandang.

            Setelah beristirahat sejenak di kampung Babakan Sukasirna, kami pun melanjutkan perjalanan. Jalan setapak yang menanjak kami lalui kembali. Sebuah kolam pemancingan di atas bukit kami singgahi untuk beristirahat sejenak.


            Tidak jauh dari tempat itu ada dua jalan, yang satu berupa jalan rondaan dan  satu lagi , yang ditunjuk plang, berupa jalan setapak yang menanjak.

Awal jalan setapak yang kami lalui masih indah karena di kanan kiri masih terdapat pohon-pohon, namun semakin ke atas jalan yang ditempuh semakin menanjak. Kondisi jalan yang berupa tanah kering yang dipinggirnya alang-alang yang sudah dibakar ditambah panas matahari yang menyengat membuat kami berjalan lambat. Rasa letih yang mulai menyerang membuat beberapa kali di antara teman kami harus berhenti sejenak mengumpulkan tenaga untuk berjalan kembali.


Alhamdulillah kami ucapkan setelah kami melewati jalan setapak yang menanjak tanpa ada peneduh. Rindangnya pohon pinus diterpa angin sepoi-sepoi sejenak bisa melepas letih yang mendera kami. Dari bawah teduhnya pohon pinus kami melihat luasnya situ Bagendit beserta wilayah sekitarnya.  

Perjalanan belum berakhir, jalan setapak yang menanjak dan berdebu harus kami lalui. Tekad “hayang apal” membuat kami terus berjalan walau terengah-engah.

Saatnya buka perbekalan demikian saat kami tiba di atas gunung. Walau perbekalan yang dibawa alakadarnya tapi “Nikmat tenaaan”. Indahnya sebuah kebersamaan.

Saat beristirahat kami berpapasan dengan beberapa orang remaja yang berasal dari Nangorak Karangpawitan, salah seorang diantaranya memberitahu bahwa dibelakang pagar bambu tersebut ada sebuah kuburan, mereka menyebutkan bahwa yang dikubur tersebut adalah Prabu Kingking, dan kuburan tersebut disebut paesan panjang. Mang Yaya pun tertarik untuk mengukur berapa meter panjang kuburan paesan panjang itu. 
Perjalanan kami lanjutkan, rindangnya pepohonan membuat kami terus bersemangat mencapai “Lingga Ratu”.
Subhanallah, Allahu Akbar demikian ketika kami pertama kali melihat batu-batu besar yang berdiri kokoh di depan kami.    



Setelah menikmati indahnya pemandangan, kami pun melangkah pulang. Perjalanan pulang ternyata tak kalah seru dibanding saat berangkat. Jalan setapak  menuruni jurang namun teduh membuat kaki kami “ngaroroncod” sehingga kami seringkali mengambil cara “sosorosodan” daripada berjalan berdiri karena takut jatuh.
Selepas melewati jalan di hutan, jalan rondaan yang kering dan berdebu menyapa kami ditambah dengan jalan tanpa ada pohon peneduh dan jauh lagi membuat lengkaplah episode aprak-aprakan kali ini. He...he..............

Plang ini menjadi tanda akhir aprak-aprakan kami kali ini. Selamat berjumpa di episode aprak-aprakan yang lain.  
Bagi kawan-kawan yang suka bertualang, kawasan Lingga Ratu bisa dijadikan salah satu tujuan lintas alam. Tapi yang harus diingat ke Lingga Ratu harus rame-rame karena tempatnya lumayan "sereeeem".

 

2 komentar:

  1. sabaraha lami jalan kaki kang dugi dieu ti kampung bongkor? manawi aya rencana kadieu deui saatos lebaran kang..?

    BalasHapus