Hari Ahad, 4
September 2011, pukul 07.00 kami berkumpul di base camp untuk persiapan lintas
alam. Kali ini kami bermaksud menjelajahi wilayah Lingga Ratu yang berada di
Karangpawitan Garut. Anggota yang mengikuti “aprak-aprakan” kali ini berjumlah
11 orang.
Dengan menumpang angkot no 12 kami
berangkat menuju start perjalanan ke Lingga Ratu. Kami memilih awal perjalanan
dari kampung Bongkor bukan dari jalan yang ada plang tempat wisata Lingga Ratu.
Pukul 07.30 wib kami memulai “aprak-aprakan”.
Jalan pertama yang kami lalui berupa jalan rondaan yang belum diaspal. Di kanan
kiri jalan terdapat saung-saung pengrajin bata merah. Kemarau yang panjang
membuat jalan yang kami lalui berdebu.
Tiga kampung telah kami lewati yaitu
kampung Bongkor, Timbangayu, dan Kalapa Dua. Jalan yang kami lalui hanya
tanjakan biasa yang dipinggirnya berdiri rumah-rumah penduduk yang diselingi
kebun-kebun dan tempat pembuatan bata merah. Menjelang kampung Babakan Sukasirna jalan yang
kami lalui berupa jalan setapak yang mulai menanjak yang sebagiannya sudah
ditembok. Ketika kami sampai diujung tanjakan menuju kampung Babakan Sukasirna pemandangan
indah mulai kami nikmati. Hamparan wilayah kota Garut dan sekitarnya terlihat
enak dipandang.
Setelah beristirahat sejenak di
kampung Babakan Sukasirna, kami pun melanjutkan perjalanan. Jalan setapak yang
menanjak kami lalui kembali. Sebuah kolam pemancingan di atas bukit kami
singgahi untuk beristirahat sejenak.
Tidak jauh dari tempat itu ada dua
jalan, yang satu berupa jalan rondaan dan satu lagi , yang ditunjuk plang, berupa jalan
setapak yang menanjak.
Awal jalan
setapak yang kami lalui masih indah karena di kanan kiri masih terdapat
pohon-pohon, namun semakin ke atas jalan yang ditempuh semakin menanjak.
Kondisi jalan yang berupa tanah kering yang dipinggirnya alang-alang yang sudah
dibakar ditambah panas matahari yang menyengat membuat kami berjalan lambat. Rasa
letih yang mulai menyerang membuat beberapa kali di antara teman kami harus
berhenti sejenak mengumpulkan tenaga untuk berjalan kembali.
Alhamdulillah
kami ucapkan setelah kami melewati jalan setapak yang menanjak tanpa ada peneduh.
Rindangnya pohon pinus diterpa angin sepoi-sepoi sejenak bisa melepas letih
yang mendera kami. Dari bawah teduhnya pohon pinus kami melihat luasnya situ
Bagendit beserta wilayah sekitarnya.
Perjalanan
belum berakhir, jalan setapak yang menanjak dan berdebu harus kami lalui. Tekad
“hayang apal” membuat kami terus berjalan walau terengah-engah.
Saatnya buka
perbekalan demikian saat kami tiba di atas gunung. Walau perbekalan yang dibawa
alakadarnya tapi “Nikmat tenaaan”. Indahnya sebuah kebersamaan.
Saat
beristirahat kami berpapasan dengan beberapa orang remaja yang berasal dari
Nangorak Karangpawitan, salah seorang diantaranya memberitahu bahwa dibelakang
pagar bambu tersebut ada sebuah kuburan, mereka menyebutkan bahwa yang dikubur
tersebut adalah Prabu Kingking, dan kuburan tersebut disebut paesan panjang.
Mang Yaya pun tertarik untuk mengukur berapa meter panjang kuburan paesan
panjang itu.
Perjalanan
kami lanjutkan, rindangnya pepohonan membuat kami terus bersemangat mencapai “Lingga
Ratu”.
Subhanallah,
Allahu Akbar demikian ketika kami pertama kali melihat batu-batu besar yang
berdiri kokoh di depan kami.
Setelah
menikmati indahnya pemandangan, kami pun melangkah pulang. Perjalanan pulang
ternyata tak kalah seru dibanding saat berangkat. Jalan setapak menuruni jurang namun teduh membuat kaki kami “ngaroroncod”
sehingga kami seringkali mengambil cara “sosorosodan” daripada berjalan berdiri
karena takut jatuh.
Selepas
melewati jalan di hutan, jalan rondaan yang kering dan berdebu menyapa kami
ditambah dengan jalan tanpa ada pohon peneduh dan jauh lagi membuat lengkaplah episode
aprak-aprakan kali ini. He...he..............
Plang ini
menjadi tanda akhir aprak-aprakan kami kali ini. Selamat berjumpa di episode
aprak-aprakan yang lain.
Bagi kawan-kawan yang suka bertualang, kawasan Lingga Ratu bisa dijadikan salah satu tujuan lintas alam. Tapi yang harus diingat ke Lingga Ratu harus rame-rame karena tempatnya lumayan "sereeeem".
Bagi kawan-kawan yang suka bertualang, kawasan Lingga Ratu bisa dijadikan salah satu tujuan lintas alam. Tapi yang harus diingat ke Lingga Ratu harus rame-rame karena tempatnya lumayan "sereeeem".
rame
BalasHapussabaraha lami jalan kaki kang dugi dieu ti kampung bongkor? manawi aya rencana kadieu deui saatos lebaran kang..?
BalasHapus