Waktu menunjukkan pukul 07.15 saat kami berangkat dari basecamp. Tujuan kami kali ini adalah Gunung Satria, yaitu sebuah perkebunan teh yang berada di perbatasan Garut - Tasikmalaya. Angkot Bojongloa pun kami stop. Tawar menawar pun terjadi. Rp. 2000,- mengantarkan kami ke tempat awal aprak-aprakan. Kampung Cirorek menjadi start perjalanan. Jalan rondaan yang ditembok kami lalui. Tidak berapa lama kemudian hamparan sawah dengan jalan setapak kami lewati.
Perjalanan terus dilanjutkan, gonggongan anjing menyambut kami ketika tiba di kp. Cikupa. Cuaca yang mendung mengiringi langkah-langkah kaki kami. Sayup-sayup seorang ibu melantunkan Solawat Nabi di sebuah mesjid sebagai tanda bahwa saat itu ada pengajian.
Aprak-aprakan dilanjutkan, jalan setapak dan jalan rondaan yang naik turun tak terlewatkan. Kp. Cikawung, Kp. Haur Seah kami lalui. Suasana sejuk karena kebetulan cuaca agak mendung menyapa kami saat mulai berjalan di perkebunan Gunung Satria. Angin sepoy-sepoy menambah asyiknya perjalanan.
Dengan pertimbangan waktu kami tidak naik ke puncak Gunung Satria tapi rute diarahkan ke Kp. Nagrak dengan maksud agar tidak terlalu jauh. Akhirnya aprak-aprakan malibir Gunung Santria tiba di finis Kp. Bojong Loa Negla pukul 10.45.
Perjalanan di hari Minggu ini (18 September 2011) tidak terlalu jauh tapi lumayan lah ngajagjageun tuur mah paten.
Awal malibir Gunung Satria (Cirorek)
hamparan sawah walaupun musim kemarau air tetap mengalir
Pak Herman mengeluarkan perbekalannya
awal kebun teh "rincug"
suasana perjalanan kebun teh Gunung Satria
Yang tidak boleh ditahan-tahan karena bisa jadi penyakit
Murak bekel Pak Kundang.
Bendungan Leuwigobang
Abi oge tinggal di lewugobang..mang..euy
BalasHapus